SEMARANG — Prinsip bermedia sosial ala Nahdlatul Ulama kembali digaungkan dengan nada teduh namun menggigit. Dalam wawancara eksklusif Sabtu (25/04/2026), Dr. H. Agus Fathuddin Yusuf, M.A., mengingatkan bahwa dunia digital bukan sekadar ruang bebas, melainkan ladang amal yang sarat nilai dan pertanggungjawaban.
Sebagai akademisi yang mengabdi sebagai Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, ia memandang fenomena media sosial hari ini dengan kegelisahan intelektual. “Hari ini media sosial dipenuhi kemarahan dan klaim kebenaran. Dan seringkali, keduanya berasal dari orang yang sama, ” tegasnya.
Dalam kiprahnya sebagai wartawan di Harian Suara Merdeka, Agus melihat langsung bagaimana arus informasi bergerak liar. “Masalahnya bukan pada medianya, tapi manusianya. Kita punya ajaran, tapi sering tidak kita bawa masuk ke ruang digital, ” ujarnya reflektif.
Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga kehormatan diri melalui tulisan. “Dulu ajining diri saka lathi, sekarang ajining diri saka jempol lan timeline. Apa yang kita tulis diam-diam justru disaksikan banyak orang, ” katanya penuh penekanan.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua PCNU Kota Semarang, ia menegaskan bahwa warga NU sejatinya memiliki bekal nilai yang kuat. “Kita diajari untuk tidak merasa paling benar. Tapi ajaran itu sering tertinggal di kitab, tidak ikut login ke media sosial, ” ujarnya.
Ia kemudian menyoroti pentingnya tabayyun. “Kalau ada kabar, cek dulu. Jangan share dulu baru klarifikasi. Karena hoaks itu menyebar lebih cepat daripada kebenaran, ” tegasnya, mengingatkan bahwa setiap jempol membawa konsekuensi moral.
Nilai tasamuh atau toleransi, menurutnya, harus kembali ditegakkan. “Perbedaan itu rahmat. Dalam tradisi NU, kita diajarkan menghormati, bukan memusuhi, ” ungkapnya dengan nada yang menyejukkan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pentingnya tawazun atau keseimbangan. “Di tengah algoritma yang menyukai ekstremitas, kita harus tetap moderat. Tidak terlalu kiri, tidak terlalu kanan, ” katanya.
Sebagai Sekretaris MUI Jawa Tengah, ia juga menegaskan pentingnya i’tidal atau keadilan. “Jangan terburu-buru memvonis. Belum tahu fakta sudah menghakimi. Keadilan tidak boleh kalah oleh sensasi, ” ujarnya tegas.
Ia pun mengajak untuk menghidupkan nilai tawadhu’. “Tidak semua harus dibalas. Tidak semua harus ditanggapi. Diam kadang adalah pilihan menjaga, ” katanya bijak.
Agus mengingatkan bahwa setiap konten adalah amanah. “Satu tulisan bisa melukai, satu komentar bisa mempermalukan, satu unggahan bisa menyesatkan. Dan semuanya tercatat, ” tegasnya dengan kesadaran spiritual.
Dalam konteks sosial, ia mengajak mengedepankan islah. “Kalau ada yang panas, kita dinginkan. Jangan jadi kompor. Jadilah penyejuk, ” imbaunya.
Ia juga menyinggung filosofi luhur ‘menang tanpa ngasorake’. “Menang itu tidak harus merendahkan. Jangan jadikan kemenangan sebagai ajang mempermalukan orang lain, ” ujarnya.
Menurutnya, membawa nama besar NU adalah amanah besar. “NU besar karena adab, bukan karena gaduh. Jangan jadikan identitas sebagai tameng, ” katanya mengingatkan.
Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan mendalam. “Sebelum menekan tombol kirim, tanyakan: ini akan jadi pahala atau saksi di akhirat? Jaga lisan, jaga tulisan, jaga jempol, semua akan dimintai pertanggungjawaban, ” pungkasnya tegas.
(Djarmanto-YF2DOI)

Updates.